Kelvin Yandi, anak terlantar yang kini diasuh Panti Asuhan Aisyiyah Bumiaji Batu. (Arif/PWMU.CO)

PWMU.CO – Tubuhnya yang pendek berbalut jaket hijau tak menunjukkan usianya yang sudah 12 tahun. Dengan peci hijau bergaris zig-zag, pemilik nama lengkap Kelvin Yandi selalu ikut shalat berjamaah lima waktu di Masjid Ar Royan Jalan Kastubi Nomor 11 Bumiaji, Batu.

“Ingin jadi arsitek atau polisi,” jawabnya singkat ketika ditemui usai shalat Subuh berjamaah bersama peserta outbound kelas V SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik dip, Bumiaji, Batu, Sabtu (29/9/18).

Anak laki-laki yang terdaftar sebagai siswa kelas VII SMP Muhammadiyah (SMPM) 2 Sidomulyo Bumiajiini bersyukur bisa bergabung dengan keluarga besar Panti Asuhan Aisyiyah Bumiaji, Batu, Jawa Timur.

Seneng sekarang sudah bisa sekolah tiap hari. Dulu, kalau bapak bisa bayar sekolah, ya masuk. Sekarang bisa masuk tiap hari, ndak mikir bayar sekolah lagi,” ucap Kelvin, sapaannya.

Dia menceritakan, sebelum di panti, dirinya sering jalan-jalan sendiri menghabiskan kejenuhan di rumah dengan bersepeda dan duduk di pinggir jalan, terkadang lihat wayang.

“Tengah malam baru pulang. Bapak ibuk sudah tidur. Ndak dicarik kok. Jadi ya ndak papa. Bapak itu tukang pijat sama ngarit (mencari rumput). Kalau ibu, momong adik di rumah. Ndak pernah marah,” ungkapnya.Anak keempat dari enam bersaudara itu menyampaikan tiga aktivitas panti yang dia suka sehingga tidak merasa bosan dan jenuh di panti.“Paling suka belajar tafsir, muhadharah, dan tajwid. Dulu ndak ngaji sama sekali, jadi ndaktahu bahasa Arab yang kayak gitu. Jadi ilmu baru buat saya,” kesannya.Sementara itu, pembina panti Agus Alip Mukharrom menceritakan sikap Kelvin saat kali pertama masuk panti.“Kelvin baru tiga bulan di sini. Saat awal masuk panti, sikapnya masih belum bisa diarahkan. Ya, belum sopan lah. Ngomongnya juga masih seenaknya. Alhamdulillah sekarang sudah tertata,” tuturnya.
“Tengah malam baru pulang. Bapak ibuk sudah tidur. Ndak dicarik kok. Jadi ya ndak papa. Bapak itu tukang pijat sama ngarit (mencari rumput). Kalau ibu, momong adik di rumah. Ndak pernah marah,” ungkapnya.Anak keempat dari enam bersaudara itu menyampaikan tiga aktivitas panti yang dia suka sehingga tidak merasa bosan dan jenuh di panti.“Paling suka belajar tafsir, muhadharah, dan tajwid. Dulu ndak ngaji sama sekali, jadi ndaktahu bahasa Arab yang kayak gitu. Jadi ilmu baru buat saya,” kesannya.Sementara itu, pembina panti Agus Alip Mukharrom menceritakan sikap Kelvin saat kali pertama masuk panti.“Kelvin baru tiga bulan di sini. Saat awal masuk panti, sikapnya masih belum bisa diarahkan. Ya, belum sopan lah. Ngomongnya juga masih seenaknya. Alhamdulillah sekarang sudah tertata,” tuturnya.
“Tengah malam baru pulang. Bapak ibuk sudah tidur. Ndak dicarik kok. Jadi ya ndak papa. Bapak itu tukang pijat sama ngarit (mencari rumput). Kalau ibu, momong adik di rumah. Ndak pernah marah,” ungkapnya.Anak keempat dari enam bersaudara itu menyampaikan tiga aktivitas panti yang dia suka sehingga tidak merasa bosan dan jenuh di panti.“Paling suka belajar tafsir, muhadharah, dan tajwid. Dulu ndak ngaji sama sekali, jadi ndaktahu bahasa Arab yang kayak gitu. Jadi ilmu baru buat saya,” kesannya.Sementara itu, pembina panti Agus Alip Mukharrom menceritakan sikap Kelvin saat kali pertama masuk panti.“Kelvin baru tiga bulan di sini. Saat awal masuk panti, sikapnya masih belum bisa diarahkan. Ya, belum sopan lah. Ngomongnya juga masih seenaknya. Alhamdulillah sekarang sudah tertata,” tuturnya.
Kelvin (kiri) bersama anak panti lainnya menerima paket bantuan dari SDMM. (Tari/PWMU.CO)
Pria yang akrab disapa Agus itu membenarkan cerita Kelvin yang tak pernah berdiam di rumah dan sering pulang malam tanpa pengawasan orang tua.“Rumahnya di Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Kakak pertamanya meninggal karena sakit liver sejak kelas V SD. Kakak kedua dan ketiga lulus SMA langsung kerja serabutan. Adik pertama Kelvin masih kelas III SD, sedangkan adik keduanya masih TK,” jelas Agus.Menguatkan hal itu, pengasuh panti Ginanjar Arif menegaskan kondisi psikologi ibu Kelvin yang sedikit terganggu.“Penampilannya jauh seperti perempuan pada umumnya. Tak heran jika tetangganya mengganggapnya stres. Memikirkan dirinya sendiri saja tak mampu, apalagi memikirkan anaknya,” ungkap Arif, sapaannya.Arif menjelaskan, selama duduk di bangku sekolah dasar (SD), Kelvin dibantu guru kelasnya untuk biaya buku sekolahnya.“Kantin sekolah juga memberikan snack dan makanan gratis untuk Kelvin. Saat lulus, guru kelasnya tak mampu lagi membantu dan mengantarkan Kelvin ke panti asuhan ini,” jelasnya.
Kini, Arif tak menyangka banyak perubahan yang ditunjukkan Kelvin meski baru tiga bulan.“Shalatnya rajin, santunnya juga mulai terlihat. Yang membanggakan, Kelvin terpilih menjadi ketua kelas. Saya sempat tak percaya. Kelvin juga menjadi calon Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah atau IPM. Dia dapat perolehan suara terbanyak kedua. Yang jadi, kakak kelasnya di kelas VIII,” ujarnya.Arif menegaskan selalu memotivasi anak-anak panti untuk aktif di IPM sekolahnya masing-masing agar mereka percaya diri.“Anak-anak itu sering minder karena latar belakang keluarga yang berbeda dengan teman-teman pada umumnya di sekolah. Dengan ber-IPM, mereka bisa punya pengalaman kepemimpinan dalam organisasi yang penting untuk bekal hidup mereka ke depan,” harap Arif. (Ria Eka Lestari)

Sumber : https://pwmu.co/75530/09/30/sempat-jadi-anak-terlantar-sebelum-hidup-di-panti-kelvin-yang-bercita-cita-jadi-arsitek-itu-kini-bersemangat-sekolah/

Leave a reply "Sempat Jadi Anak Terlantar sebelum Hidup di Panti, Kelvin Yang Bercita-cita Jadi Arsitek Itu Kini Bersemangat Sekolah"

Your email address will not be published. Required fields are marked *