Jika ingin menjadi penulis besar maka harus membiasakan diri untuk mencatat hal-hal keseharian dalam buku harian.

Pegiat literasi M Choiruz Zimam menyampaikan hal itu dalam launching buku antalogi atau kumpulan tulisan terpilih karya siswa-siswi kelas International Class Program (ICP) SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Ahad (1/4/18).

“Menjadi penulis besar diawali dengan tradisi mencatat buku harian. Seperti Buya Hamka yang mempunyai banyak karya buku, yang berawal dari tradisi mencatat buku harian,” tutur pemilik rumah baca Omah Buku yang berada di Jalan Rembang Gresik Kota Baru (GKB).

Pak Zimam, begitu dia akrab disapa, teringat peristiwa di tahun 2015, setahun pascatragedi Tsunami di Aceh. “Saat itu anak-anak membuat antologi. Juga dari goresan tulisan anak-anak korban tsunami. Dan karya-karya itu diabadikan oleh salah satu penerbit ternama,” ujarnya mengenang.

Menurut Zimam, olah pikir siswa-siswi yang terekam dalam buku itulah yang penting. “Membangun tata pikir adik-adik sejak kecil, itu yang tak kalah pentingnya. Jadi dengan menulis, tata pikir kita itu terstruktur. Jadi tidak perlu untuk juara-juaraan. Tapi membiasakan adik-adik untuk menulis. Seperti catatan harian lah,” ungkap dia.

Apa yang disampaikan Zimam itu sekaligus merupakan apresiasi atas terbitnya lima buku kumpulan tulisan siswa kelas ICP yang diluncurkan bersamaan dengan Celebration 14th of Muhammadiyah Manyar In Kindship (C14MIK) alias perayaan Milad Ke-14 SDMM.

Menurut Koordinator ICP SDMM Ria Pusvita Sari, buku berbahasa Inggris itu adalah semacam catatan harian yang dimaksud Zimam. “Buku tersebut berisi tulisan tangan anak-anak tentang apa saja yang merasa hadapi dan rasakan sehari-hari. Termasuk tentang cita-citanya,” ujarnya pada PWMU.CO, Selasa (3/3/18).

Pengalaman yang ditulis tangan di atas kertas itu, jelas Vita—panggilan akrabnya—lalu dipindai dan disusun dalam bentuk buku yang dicetak berwarna. Yang menarik, setiap karya tulisan dilengkapi dengan ilustrasi gambar. “Itu gambar asli karya anak-anak juga,” ucap Vita.

Nasya Nadhira Ghazyah saat membacakan karya tulisnya My Dream. (ZAW/PWMU.CO)

Saat peluncuran, Nasya Nadhira Ghazyah, salah satu penyumbang tulisan, didapuk untuk membacakan tulisannya yang berjudul My Dream—satu dari tulisan yang terkumpul dalam buku Sail in 26 Rainbows, karya siswa kelas V ICP.

I want becoming a doctor, why? Because I want to be useful for all the people and always help each other,” kata Nasya yang ingin jadi dokter, sehingga hidupnya berguna untuk banyak orang karena bisa membantu mereka dengan profesinya itu.

Adapun lima buku antologi yang diterbitkan berdasarkan jenjang itu adalah sebagi beikut:

Its’s Me, karya Kelas I ICP
Rows of Mind, karya Kelas II ICP
Me and My Friends, Kelas III ICP
I am Possible, karya Kelas IV ICP
Sail in 26 Rainbows, karya Kelas V ICP

Selamat berkarya!  (ZAW)

Sumber link

Leave a reply "Menulis Buku Dimulai dari Membuat Catatan Harian, dari Peluncuran Karya Antologi Siswa ICP SDMM"

Your email address will not be published. Required fields are marked *