Mohammad Nurfatoni (kanan) saat menyampaikan sambutan. (Vita/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kisah seorang siswa SMP yang “balas dendam” karena pernah tidak diperhitungkan kemampuannya dalam bidang studi Matematika menjadi bagian pembuka Pelatihan Guru Pembina Olimpiade Matematika SD, di SD Muhammadiyah Manyar, Gresik, Sabtu (1/12/18).

Pelatihan diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik dengan menghadirkan tim pelatih dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Cabang Surabaya.

Adalah Mohammad Nurfatoni—anggota Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik—yang menyampaikan kisah nyata itu kepada 43 guru dari 25 SD/MI se-Kabupaten Gresik.

Fatoni—sapaan akrabnya—menceritakan, suatu saat siswa SMP itu, diikutkan sekolahnya untuk mengikuti sebuah kompetisi Matematika di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Awalnya, guru siswa tersebut mengikutkannya hanya untuk mencari pengalaman saja, tidak ada target juara,” katanya. Sebab, kompetisi itu biasanya hanya dimenangi oleh sekolah-sekolah swasta top yang notabene-nya non-muslim.

Merasa tidak ditarget, lanjut Fatoni, anak SMP tadi penasaran dan tertantang. “Akhirnya ikutlah si siswa tadi. Cerita punya cerita akhirnya dia berhasil lolos sampai final,” jelasnya.

Bisa sampai di final itu ternyata sebuah prestasi tersendiri. Menurut guru yang tak memberi target itu, baru kali ini ada siswa Muslim yang masuk babak final.

Tidak hanya gurunya yang kaget, 9 finalis lainnya juga terkejut. Sebab baru kali ini ada peserta berjilbab—maksudnya Muslim. Dia pun sempat mendapat ‘pandangan’ tidak mengenakkan dan rasan-rasan (bahasa sekarang dibully) yang membuat kondisinya drop sehingga mempengaruhi mentalnya. Di pun hanya masuk tujuh besar alias gagal memperoleh gelar juara.

Fatoni melanjutkan, dari kejadian itu siswa tersebut—kini adalah temannya—akhirnya mempunyai ‘mimpi’ ingin menunjukkan bahwa anak Muslim juga bisa bersaing. “Anak tersebut akhirnya memutuskan kuliah jurusan Matematikadi perguruan tinggi negeri di Surabaya. Tujuannya agar bisa menjadi guru Matematika di sekolah Islam dan bisa membina siswanya untuk bersaing dalam kompetisi,” tambahnya.

Dan mimpi itu menjadi kenyataan. Siswanya ada menjadi finalis kompetisi matematika internasional dan tingkat lokal.

Ayah dari Rosyad Hizbussalam Mohammad—Finalis Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika 2012 di Jakarta dari MAN Insan Cendekia Serpong—itu mengatakan, cerita itu disampaikan agar para guru Muhammadiyah termotivasi untuk melahirkan para juara.

“Itulah bagian dari jihad pendidikan kita, bagaimana sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Gresik bisa bersaing dengan sekolah lainnya,” pesannya.

Mewakili Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Gresik Ir Dodik Priyambada SAkt yang masih dalam perjalanan dari Surabaya, Fatoni menyampaikan kegiatan ini adalah salah satu dari upaya Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Gresik untuk meningkatkan kualitas guru.

“Selain itu kami juga punya program untuk peningkatan kualitas sekolah, karyawan, dan siswa,” tegasnya.

Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepada KPM Cabang Surabaya. “Semoga kerjasama ini terus berlanjut sebagai bagian dari upaya pembinaan kepada siswa-siswa Muhammadiyah,” harapnya. (Vita)

Sumber Berita

Leave a reply "Kisah Siswa SMP Yang ‘Balas Dendam’ karena Diremehkan Matematikanya"

Your email address will not be published. Required fields are marked *