Bahrul Ulum menyampaikan pesan dalam penutupan MIHT #8. (Tari/PWMU.CO)

PWMU.CO – Setelah ditempa selama tiga hari dua malam, peserta Math in House Training (MIHT) #8 diharap mampu istiqamah menjaga amalan sunah setiap hari.

Hal ini disampaikan Bagian Penelitian dan Pengembangan Klinik Pendidikan Mipa (Litbang KPM) Jawa Timur Bahrul Ulum dalam Penutupan MIHT di Hotel Namira Syariah Surabaya, Ahad (9/9/18).

Review lagi materi-materi yang telah diajarkan ustadz-ustadzah di sini. Amalan sunah juga harus tetap dilakukan. Jangan seperti buih di lautan yang cepat hilang tak berbekas,” ujarnya.

Dia melanjutkan, hasil pre testpost test, nilai sikap, ibadah, dan proses belajar siswa MIHT akan dilaporkan dalam rapor sederhana yang dikirimkan langsung ke wali siswa.

“Ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab kami kepada Bapak-Ibu sekalian agar mengetahui perkembangan putra-putrinya selama bersama kami di sini,” tuturnya di hadapan peserta MIHT dan wali siswa.

Menurutnya, program pelatihan matematika menuju olimpiade internasional yang diselenggarakan untuk menyongsong Challenge for Future Mathematicians Paralel 2018 (Road to CFM) ini sangat penting diikuti calon-calon juara CFM mendatang. Acara ini diselenggarakan Jumat-Ahad, 7-9 September 2018.

“CFM besok, model soalnya dalam bahasa Inggris. Siswa bisa mengikuti seleksi di Cabang KPM atau Mitra KPM terdekat yang menyelenggarakan. Pendaftaran akan ditutup 20 Oktober 2018. Ada medali emas, perak, perunggu, dan merit yang akan diperebutkan,” jelasnya.

Kepada seluruh peserta MIHT, dia mengingatkan untuk semangat mengikuti seluruh kompetisi yang ada sebagai ajang pengayaan soal dan psikologi.

“Rezeki itu kadang ada di kompetisi A, kadang di B. Kita tidak tahu rezeki kita di kompetisi yang mana. Karena itu jangan pernah menyerah ikut lomba tertentu. Ikuti saja semuanya,” tegasnya.

Dia berpesan, amalan sunnah seperti shalat tahajud, dhuha, dan shadaqah yang selama ini diajarkan di KPM harus istiqamah dilakukan agar mendapat keberkahan Allah SWT.

“Berkah Allah itu berupa prestasi putra-putri kita. Juga berupa kelancaran rezeki orang tua. Selama di rumah nanti, esok, dan seterusnya, lanjutkan amalan sunnah yang kita lakukan selama di hotel ini. Tahajud itu tajam, akan ditempatkan di tempat yang terpuji, baik prestasi maupun akhlaknya,” pesannya.

“Shalat Dhuha termasuk salah satu shadaqah kita terhadap sendi dan tulang-tulang kita. Insyaallah akan ditambah rezekinya. Sukses segala urusan baik di dunia maupun di akhirat,” imbuhnya.

Dari kiri ke kanan, Kayla, Kaysah, Hasna saat sesi istirahat. (Tari/PWMU.CO)

Sementara itu, peserta MIHT dari SD Al Muslim Sidoarjo Hasna Qonita mengaku senang menjalani aktivitas pembelajaran selama tiga hari dua malam.

“Ustadz-ustadzahnya baik, acaranya menyenangkan, soal-soal matematikanya ada yang sulit dan ada yang mudah. Seneng karena dapet temen baru,” ucap Hasna, panggilannya.

Hasna menyampaikan dirinya belum memutuskan ikut CFM atau tidak karena takut soal berbahasa inggris.

“Belum tahu ikut apa ndak, karena aku ndak bisa bahasa Inggris. Tapi nanti kalau temen-temen banyak yang ikut, aku mau coba ikut juga,” keluhnya.

Berbeda halnya dengan Kayla Mumtazah Mudzakkir, peserta MIHT dari SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik yang optimis mengikuti CFM 2018.

“Ikuuuttt. Bahasa Inggrisnya nanti minta diajarin ustadz-ustadzah di sekolah,” jawabnya sedikit berteriak usai menerima Brain Cube, souvenir peraga matematika dari panitia.

Kayla—sapaannya—mengeluh paling susah bangun saat tahajud dan dinginnya air conditioner (AC) di kamar.

“Waktu patroli malam itu ngantuk saat dibangunin ustadz untuk tahajud. Ngantuk banget, tapi harus ke mushala sambil bawa Quran. Kedinginan juga, he he,” ungkap siswa yang sama-sama kelas III dengan Hasna ini malu-malu.

Berada satu kamar dengan Kayla dan Hasna, ‘Abidah Kaysah Al Barkah dari SDMM bersemangat ingin ikut MIHT lagi tahun depan.

Pingin ikut lagi tahun depan. Karena di kelas IV, mulai banyak lomba-lomba. Tapi aku maunya ikut MIHT kalau satu kamar sama Hasna dan kak Kayla,” tegasnya.

Sempat ragu ikut CFM, siswi kelas III yang biasa disapa Kaysah ini akhirnya bersemangat ikut seleksi CFM.

“Soalnya berapa? Bahasa Inggrisnya susah ta? Tapi ikut saja wes ndak papa. Coba-coba dulu,” jawabnya sembari memainkan Brain Cube. (Ria Eka Lestari)

Leave a reply "Ajakan Jaga Amalan Sunah Ini Justru Datang dari “Math in House Training”"

Your email address will not be published. Required fields are marked *